This is Elang. One of the greatest person i’ve ever known. Not was just a lover, this amazing being is one of bestfriends, a brother of mine. Growing, finding his path, running from past, accepting the changes, this man-in-the-making is pursing his dreams. We’re apart but our friendship is deep rooted in our heart. We’re apart maybe in distance, but never at heart. Gonna miss great times we had hanging out together. Till we meet again when we’re least expecting it. 
PS  : Find inspiration, get rid of negative thoughts, find support, pray, believe in yourself, and enjoy the journey, Lang.

This is Elang. One of the greatest person i’ve ever known. Not was just a lover, this amazing being is one of bestfriends, a brother of mine. Growing, finding his path, running from past, accepting the changes, this man-in-the-making is pursing his dreams. We’re apart but our friendship is deep rooted in our heart. We’re apart maybe in distance, but never at heart. Gonna miss great times we had hanging out together. Till we meet again when we’re least expecting it.
PS  : Find inspiration, get rid of negative thoughts, find support, pray, believe in yourself, and enjoy the journey, Lang.

Peranan Mahasiswa Kesehatan Masyarakat untuk Indonesia

Mahasiswa merupakan sebuah komunitas yang berada di masyarakat. Mahasiswa dipercaya mempunyai pengetahuan lebih daripada orang lain serta merupakan orang yang aktif, kreatif, kritis, dan inovatif dalam mengerjakan segala sesuatu hal. Mahasiswa juga belum tercekcoki oleh kepentingan-kepentingan suatu golongan, ormas, parpol, dsb. Berdasarkan berbagai potensi dan kesempatan yang dimiliki oleh mahasiswa, tidak sepantasnya bila mahasiswa hanya mementingkan kebutuhan dirinya sendiri tanpa memberikan kontribusi terhadap bangsa dan negaranya.

Mahasiswa itu sudah bukan siswa yang tugasnya hanya belajar, bukan pula rakyat, bukan pula pemerintah. Mahasiswa memiliki tempat tersendiri di lingkungan masyarakat, namun bukan berarti memisahkan diri dari masyarakat.

Peran mahasiswa di Indonesia ini sangatlah penting, yaitu sebagai generasi penerus bangsa ini. Mahasiswa mempunyai peranan dalam meningkatkan pembangunan Indonesia lebih baik lagi. Sedangkan, mahasiswa kesehatan masyarakat memiliki peran untuk meningkatkan taraf kesehatan manusia lebih baik lagi.

Peran mahasiswa kesehatan masyarakat tidak terlepas dari pengontrolan permasalahan kesehatan, pengkritikan kebijakan pemerintah di bidang kesehatan dan tentu saja pemberian solusi dan rekomendasi bagi pemerintah yang tujuannya adalah untuk perbaikan kesehatan rakyat Indonesia.

Indonesia merupakan salah satu negara yang mempunyai penduduk terbanyak di dunia. Penduduknya pun bervariasi, mulai dari yang golongan atas sampai golongan bawah, yaitu kaum marginal. Pertumbuhan penduduk Indonesia yang terus-menerus meningkat menyebabkan adanya permasalah yang muncul, salah satunya adalah permasalahan dalam bidang kesehatan. Persentasi kesehatan Indonesia memang sangat memprihatinkan. Masalah ini adalah masalah yang sangat perlu diperhatikan oleh pemerintahan Indonesia, begitu pula kita sebagai mahasiswa kesehatan masyarakat juga perlu memperhatikan, bahkan memperbaikinya menuju ke tingkat yang lebih baik lagi.

Banyak faktor yang menyebabkan tingkat kesehatan di kalangan masyarakat menengah ke bawah rendah. Diantaranya adalah kurangnya kesadaran dari masyarakat, pemerintah yang kurang perhatian terhadap masyarakat kelas bawah, lingkungan sekitar yang tidak layak dalam standar kesehatan, dan sarana prasarana kesehatan yang kurang mendukung. Ditambah lagi tenaga medis yang kurang dan kurang pengalaman, terutama di daerah pedesaan.

Dengan  rendahnya tingkat tingkat kesehatan di kalangan masyarakat bawah, terjadi ketimpangan dalam pemerataan tingkat kesehatan. Perbedaan ini harus segera dikikis habis demi kemajuan kesehatan di Indonesia.

Oleh karena itu Indonesia sangat memerlukan orang-orang dalam bidang kesehatan yang diharapkan dapat membantu meningkatkan kesehatan masyarakat Indonesia sendiri. Pemerintah Indonesia juga berperan penting dalam bidang kesehatan ini, seperti perbaikan jalan di daerah-daerah, melaksanakan program bebas biaya di rumah sakit untuk orang-orang yang tidak mampu, peningkatan pembangunan puskesmas di daerah-daerah, peningkatan kinerja orang-orang yang berperan penting dalam kesehatan.

Ahli kesehatan masyarakat Indonesia harus mampu bersaing dengan profesi ahli kesehatan masyarakat dari negara lain. Untuk itu diperlukan adanya standar profesi ahli kesehatan masyarakat sebagai pedoman standarisasi bagi profesi ahli kesehatan masyarakat.

Masyarakat kesehatan masyarakatlah yang bertugas dan bertanggungjawab agar orang tidak sakit melalui promosi dan penyuluhan kesehatan yang berupa pesan agar masyarakat mau dan mampu menjaga kesehatannya sendiri. Saat ini mahasiswa kesehatan masyarakat sangat banyak dibutuhkan.

Mahasiswa kesehatan masyarakat mempunyai kontribusi yang sangat penting dan sangat berperan dalam kehidupan manusia. Kontribusi ini diarrtikan sebagai sumbangan, tetapi sumbangan bukan berupa uang atau barang. Namun, sumbangan dalam bentuk tindakan kita dalam bentuk nyata kepada masyarakat tanpa meminta imbalan.

Sumber :

http://zulfaayuningsih.blogspot.com/2012/05/revitalisasi-peran-mahasiswa-kesehatan.html

http://muphmuffin.blogspot.com/2012/05/revitalisasi-peran-mahasiswa-kesehatan.html

http://citraaveony.wordpress.com/2013/02/26/peran-kita-mahasiswa-kesehatan-indonesia/

Esensi : Penulis lebih memahami peran sebagai mahasiswa kesehatan masyarakat di Indonesia.

Indonesia dan Framework Convention on Tobacco Control (FCTC)

Tembakau merupakan ancaman kesehatan masyarakat dunia yang sudah membunuh lebih dari lima juta orang. Sebagai penyebab kematian yang masih dapat dicegah, tembakau sudah dicoba untuk dikontrol. Pengontrol temabakau yang paling utama adalah perundang-undangan tentang tembakau atau rokok dan kesadaran masyarakat sendiri. WHO dan Bank Dunia telah merumuskan Framework Convention on Tobacco Control  (FCTC).

FCTC merupakan suatu bentuk hukum internasional dalam pengendalian masalah tembakau, yang mempunyai kekuatan mengikat secara hukum bagi negara-negara yang meratifikasinya. FTCT  mengatur tentang iklan, cukai, pengemasan, pelabelan, dan kandungan dari produk tembakau. FCTC ini diadopsi oleh 192 negara anggota WHO, pada 21 Mei 2003. Perjanjian ini bertujuan untuk mengendalikan kematian dan penyakit yang berkaitan dengan rokok. Bahkan dunia sudah memperingati World No Tobacco day pada tanggal 31 Mei 2013 dan sekaligus memperingati kesuksesan WHO dalam menggalakkan  FCTC di berbagai negara sebagai langkah konkrit mereka melakukan perlawanan terhadap penggunaan tembakau. 

Indonesia saat ini sedang mengalami epidemi tembakau. Dengan tingkat prevalensi merokok 31,5%, Indonesia merupakan negara mengonsumsi tembakau tertinggi ke-5 di dunia. Indonesia juga merupakan negara penghasil tembakau terbesar ke-7. Namun sampai saat ini indonesia merupakan satu – satunya negara ASEAN yang belum menandatangani ratifikasi FTCT ini. Padahal Indonesia merupakan salah satu negara yang mempunyai andil penting terhadap pengendalian tembakau di dunia mengingat Indonesia memiliki jumlah penduduk terbesar ke-4 sedunia.

Sebagian besar negara-negara yang terletak di WHO South East Region Asia (SEAR) telah menunjukkan komitmen yang kuat untuk FCTC. Indonesia, bagaimanapun, adalah pengecualian - ada banyak kontra dari bagian pemerintah untuk mengaksesi FCTC ini dan menerapkan kebijakan pengendalian tembakau. Hampir hampir tidak ada kegiatan pengendalian tembakau di tempat dan dukungan substansial pemerintah untuk produksi tembakau dan perdagangan. Indonesia belum terlihat serius untuk melakukan tindakan peningkatan taraf kesehatan masyarakat Indonesia. Terbukti dari belum ditandatanganinya ratifikasi FTCT. Banyak sekali kekurangan pemerintah Indonesia yang ditemukan dalam upaya pengendalian tembakau ini,  pertama yaitu pengendalian harga dan cukai tembakau, Indonesia merupakan salah satu negara dengan nilai cukai terendah di ASEAN yaitu 30 %, sehingga harga produk tembakau yaitu rokok dapat dijangkau oleh semua kalangan, termasuk golongan miskin dan anak - anak. Kedua, banyak masyarakat yang menganggap peringatan pada lebel rokok sebagai selingan kata belaka dan bahkan tidak mempercayai peringatan tersebut. Peringatan tersebut sudah dinilai ‘basi’ oleh masyarakat dan tidak mempan lagi untuk membuat masyarakat sadar akan dampak negatif dari merokok. Ketiga, larangan menyeluruh terhadap iklan, promosi dan pemberian sponsor produk tembakau. Pada PP No. 19/2003 pasal 16 ayat 3 tentang pembatasan iklan, pemerintah hanya membatasi dari segi pembatasan jam tayang yaitu pukul 21.30-05.00, tidak melarang secara total penayangan iklan rokok. Sehingga masih ada peluang iklan rokok tayang dan dilihat oleh kalangan anak – anak dan remaja.

Keempat, pengaturan kawasan bebas rokok. Saat ini telah banyak daerah yang menerapkan kawasan bebas rokok. Namun pada faktanya, masih banyak orang yang merokok pada kawasan bebas rokok, dan masih kurangnya pengawasan pada kawasan bebas rokok tersebut serta ketegasan tindakan hukuman yang diberikan bagi yang melanggar. Kelima, pengungkapan dan pengaturan kandungan produk tembakau. Undang-undang di Indonesia sampai saat ini hanya mengatur pada pencantuman kadar tar dan nikotin saja bukan kandungan secara menyeluruh terutama zat-zat beracun. Hal ini memberikan kesempatan bagi industri rokok untuk tidak transparan dalam pengungkapan zat-zat beracun pada rokok, sehingga masyarakat tidak mengetahui kandungan berbahaya dalam rokok dan dampak negatifnya bagi kesehatan. Keenam, pendidikan dan kesadaran masyarakat. Pemerintah masih kurang dalam pemberian pendidikan masyarakat tentang merokok, terutama bahaya yang ditimbulkan.

Selama ini memang ada peraturan yang mengatur masalah rokok yakni PP No. 18 tahun 2003. Namun keberadaan PP ini tidak cukup efektif mengatasi masalah rokok, khususnya dalam menangani iklan rokok. Selama ini banyak bermunculan iklan-iklan rokok yang dapat mempengaruhi generasi muda. Meratifikasikan FCTC tidak memerlukan perubahan PP yang ada. Ratifikasi ini pun tidak berarti perusahaan-perusahaan rokok yang ada akan ditutup.

Sumber : http://www.healthbridge.ca/HealthBridge%20Indonesia%20TC%20report%2007.pdf

http://www.tempo.co/read/news/2003/12/04/05532842/Indonesia-dalam-Proses-Meratifikasi-FCTC.

http://asrihz.tumblr.com/post/15716483024/mengapa-indonesia-masih-ragu

Esensi : Dengan penugasan esai tentang Indonesia dan FCTC ini, penulis mendapatkan pengetahuan lebih lanjut tentang hukum internasional mengenai rokok dan penerapannya di Indonesia. 

Agama dalam Kehidupan Kampus

Dalam kehidupan kampus, mau tidak mau kita akan dituntut untuk mandiri. Namun mahasiswa sering sekali tidak menyadari bahwa kuliah akan berhubungan dengan banyak hal, baik secara psikologis, sosiologis, teknis, dan non teknis. Mulai dari perhatian, pelayanan, kasih sayang secara langsung, bahkan pemenuhan kebutuhan secara teratur menjadi berkurang dan lebih tidak teratur dari sebelumnya. Hasilnya, setiap individu akan memerlukan orang lain dan lingkungan pergaulan yang bisa mengerti akan diri dan kebutuhannya. Dapat disimpulkan, setiap pilihan aktifitas kegiatan kita akan menentukan mau kemana dan bagaimana kita mengatur diri kita sendiri.

Kehidupan di dalam kampus diisi oleh mahasiswa yang tidak hanya dari berbagai penjuru daerah di seluruh Indonesia, melainkan juga dari berbagai penganut agama yang bermacam-macam. Karena tingginya tingkat keanekaragaman agama di dalam kampus, maka sangat dibutuhkan sikap toleransi yang tinggi antar umat beragama. Sikap toleransi beragama pun tentunya tidak sulit. Sikap toleransi beragama bisa kita lakukan dengan mudah, misalkan seperti menghargai agama lain, menghormati agama lain, dan bisa juga dengan saling tolong menolong tanpa memandang bulu.

Di dalam Islam sendiri juga dikenal istilah toleransi. Islam mengajarkan kita untuk saling bertoleransi antar agama. Bahkan terdapat ayat di Al Qur’an tentang toleransi seperti surat Al Kafirun ayat 6 yang berbunyi “Lakum diinukum waliya diin”.

Seperti yang sudah kita pelajari sejak berada di bangku sekolah, surat Al-Kafirun juga mengajarkan tentang sikap menerima keanekaragaman dalam hal beragama tetapi kita tidak boleh salah penafsiran. Sikap toleransi dalam Al Qur’an bukan berarti membenarkan ajaran agama lain. Maksud dari toleransi beragama di Al Qur’an dimaksudkan agar kita tidak dilarang untuk bergaul, berhubungan, berinteraksi dan bekerjasama dengan kaum agama lain dalam berbagai hal yang umum seperti bidang pendidikan, ekonomi, budaya dan bisnis.

Agama adalah hal yang penting dalam kehidupan manusia. Kita diberi kebabasan dengan agama yang kita anut begitu pula dengan yang berbeda keyakinan dengan kita. Mereka pun diberi kebabasan dengan agamanya masing-masing.

Bebas beragama di kampus bisa berarti seperti bebas beribadah, mengadakan peringatan hari beragama sesua dan membentuk organisasi keagamaan. Kita, sebagai mahasiswa, harus bisa menciptakan sikap toleransi dalam beragama karena sikap tersebut adalah sikap yang dapat menghilangkan sikap membeda-bedakan  dalam beragama, menciptakan perdamaian dan persatuan antar sesama, menciptakan persahabatan dan persaudaraan antar mahasiswa. Sikap mudah toleransi juga dapat menentukan yang paling baik yang mengutamakan martabat manusia dan juga bisa menemukan jalan terbaik, serta dapat mengubah sikap individu.

Mahasiswa, sebagai makhluk sosial, diharapkan mampu mengamalkan sikap toleran di dalam lingkungan kampus. Karena kampus adalah tempat dimana berbagai macam penganut agama, sudah sepatutnya kampus menjadi gambaran nyata praktik perilaku toleransi dalam beragama.

Dengan dibudayakannya sikap bertoleransi, pembelajaran sikap toleransi beragama di kampus dapat dilaksanakan semaksimal mungkin. Contoh dari pembelajaran bertoleransi agama di kampus sendiri adalah mahasiswa pada tingkat yang akan mendapatkan mata kuliah yang berhubungan dengan agama untuk menanamkan sikap bertoleransi dalam umat beragama.

Mahasiswa tidak sekadar dituntut secara akademis saja. Tetapi mahasiswa harus memiliki sikap toleransi. Kita sebagai mahasiwa harus bisa bersikap seperti orang berpendidikan yang tidak boleh memandang perbedaan agama antar mahasiswa. Apabila sikap toleransi beragama telah dibiasakan di dalam kampus, hal ini adalah wujud perdamaian bangsa Indonesia.

Sumber :

http://ajdamily.blogspot.com/2012/07/ayat-ayat-al-quran-dan-hadits-tentang.html

http://www.hidayatullah.com/artikel/ghazwul-fikr/read/2013/12/26/13857/iman-dan-toleransi-beragama.html

Esensi : Penulis menjadi lebih memahami pentingya agama serta pentingnya bertoleransi beragama dalam kehidupan kampus.